3. Gak Mager
Ada yang bilang kalau gak mager itu bukan orang Indo banget, setuju atau ini cuma katanya saja?
Ya, Indonesia menjadi negara paling mager nomor satu di dunia dikutip detikTravel yang melibatkan 700 ribu orang dari 46 negara, riset Universitas Stanford.

Informasi ini penting, tapi tidak usah begitu fokus di situ selama kita sendiri tidak menjadi bagian dari data di atas atau setidaknya menjadi influencer biar lingkungan sedikit demi sedikit menjadi lebih produktif.
Kalau di Jepang ada yang namanya konsep ikigai, atau alasan untuk bangun pagi dengan semangat, bahagia, dan penuh makna setiap hari.
Jadi kalau kita punya alasan, tujuan, dan motivasi untuk fighting setiap kali bangun maka setiap detik, menit, jam itu akan diisi dengan kegiatan yang bermanfaat.
Apalagi sebagai seseorang yang memiliki agama, kita diperintahkan untuk ibadah mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, dengan niat ibadah untuk bangun belajar, bekerja, dan ritual ibadah wajib dan sunah lainnya.
Seharusnya sebagai orang beragama yang sudah diatur dalam kitab suci, kita lebih bersemangat karena kita diminta untuk senantiasa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, tidak membuang-buang waktu karena tidak ada yang menjamin kita akan hidup 5, 10, 15, 20 tahun lagi. Jangan sampai kita menyesal telah menyia-nyiakan waktu.
Di negara yang sangat menghargai waktu ini, telat semenit saja mereka luar biasa sangat menyesal baik pribadi hingga misal perusahaan kereta api sangat menjunjung ketepatan waktu.
Warga lokal selalu bergegas saat hendak berangkat sekolah atau bekerja di jalan hingga di statiun, meski terburu-buru mereka tetap sabar untuk mengantri, dedikasinya pun sangat tinggi terhadap pekerjaan.
Pekerjaan apapun yang dilakukan yang mungkin tampak receh menurut kacamata kita misal membersihkan toilet taman, mengangkut sampah di depan apato sesuai jadwal, packing kerupuk es krim, hingga menunggu pelanggan di pelelangan ikan mereka sangat berdedikasi, mencintai, dan menghargai pekerjaan yang dilakoni.
Mungkin karena indeks kesenjangan ekonomi relatif rendah sehingga sekalipun pekerjaan apapun yang dilakukan mereka tetap bisa hidup layak, semisal pekerja konstruksi atau dikenal dengan sebutan tukang, kalau di Jepang mereka digaji tinggi karena pekerjaannya cukup berat di negara 4 musim ini dan harus memiliki sertifikat skill worker.
Namun sekalipun indeks kesenjangan ekonomi di Indonesia cukup tinggi setidaknya kita bisa belajar dari negara Jepang untuk memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan untuk terus bergerak produktif berkarya.
Mumpung masih sehat, masih muda, masih ada waktu luang. Buat tujuan hidup, kalau tidak ada tujuan hidup maka kita bisa sekedar hidup bak mengalir seperti air yang berujung pada septictank, bersantai ria dengan scroll tiktok seharian.
Jangan tunggu tahu-tahu menua dan tetap jadi pengangguran beban keluarga dan negara. Yang hidup dari belas kasih orangtua atau keluarga padahal mampu bekerja apapun yang penting halal dan tidak jadi pengangguran.
Karena karakter seperti ini kalau di Jepang sudah menjadi tuna wisma atau homeless yang hidup dari santunan negara dan orang-orang baik, berselimut kardus-kardus bekas yang menjadi tempat tinggal.
Gak mau kan hidup seperti ini? So, tentukan tujuan hidup, jangka pendek, menengah, dan panjang, buat catatan to do list di sticky note di hp atau catatan manual biar gak lupa, hari ini mau lakukan apa saja?
Contoh to do list harian (versi IRT) :
Tujuan jangka pendek itu berlangsung sekitar kurang dari 1 tahun, jangka menengah itu selama 1-5 tahun, dan jangka panjang lebih dari 5 tahun.
Contoh tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang :
Dengan punya tujuan hidup, kita jadi tahu mau dibawa ke mana hidup kita biar jelas? Janlup punya konsep ikigai biar semangat bangun pagi setiap hari. Ganbatte!
Comments
Post a Comment